Showing posts with label bahan renungan. Show all posts
Showing posts with label bahan renungan. Show all posts

Thursday, December 29, 2011

2 hari menuju 2012




Tahun 2011 akan segera berakhir. Dalam hitungan kurang dari 48 jam lagi kita akan sampai di tahun 2012. Walaupun tahun 2011 terasa berat untuk dijalani, aku tetap bersyukur bisa melaluinya. Banyak pelajaran tentunya yang bisa diambil dari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Secercah harapan aku gantungkan di tahun 2012. Semoga di tahun mendatang, rencana yang telah dibuat dapat terwujud. Aamiin...

Happy New Year to all of you!!

*life is so beautiful even it may be so painful*


Saturday, December 3, 2011

:: refleksi hari ini: pribadi yang tidak berduri ::

Proyek Pribadi Hari Ini:
MENJADI PRIBADI YANG TIDAK BERDURI

Sahabatku, di pagi yang damai ini, marilah kita sampaikan …

Tuhanku Yang Maha Penyayang,

Aku mohon Engkau menumpulkan sudut-sudut tajam pada sifatku dan mencabut duri-duri tajam pada caraku berbicara dan berlaku, yang membuat orang terluka tanpa aku sengaja.

Pedih hati ini menyaksikan orang-orang yang mencintaiku terluka olehku, karena ketidak-mampuanku mengendalikan amarah dan ketidak-sabaranku.

Tuhan, hari ini aku akan berusaha mendamaikan diriku di dalam perbedaan pendapat, menyabarkan diri dalam kelambanan orang lain, dan menghilangkan dari dalam diriku - ketegangan dan ketergesaan yang menyiksa orang lain.

Semoga dengan yang kuniatkan ini, Engkau berkenan menjadikan aku jiwa yang tidak berduri, yang lembut memperlakukan hati keluarga dan sesama.

Aamiin

Terima kasih dan salam super,

Mario Teguh – Loving you all as always

Dikutip dari: http://www.facebook.com/pages/Mario-Teguh/52472954880


Friday, December 2, 2011

guru privat matematika

Wah, ternyata tahun 2011 tuh banyak kejutan ya! Gak sangka dapat kesempatan jadi guru privat matematika. Usai ulangan tengah semester, tetanggaku memintaku untuk memberikan les untuk putranya yang masih duduk di kelas 6 SD. Hasil ulangan putranya kali ini agak mengecewakan. Karena mengingat hubunganku dengan keluarga tetanggaku sudah cukup dekat, rasanya gak kuasa juga untuk menolak permintaannya. Akhirnya pertengahan Oktober ku beranikan diri menerima kepercayaan itu. Alhamdulillah minggu ini, setelah kurang lebih 1,5 bulan aku ajari terlihat ada kemajuan. Beberapa tes yang aku berikan, dapat dijawabnya dengan benar. Semoga hasil ulangan akhir semester minggu depan bisa lebih baik. Nikmatnya bisa berbagi ilmu. Terima kasih Allah atas kepercayaan yang telah Kau berikan :)

Friday, May 15, 2009

they're not ours

I need to know you
I want to
I need you to love me
you have to

You have to understand me
Listen to what I've said
knowing that
I know what's best for you

I feel like you are mine
I think I created you

most Parents usually forgot
that only by Allah's Mercy
we can have our children
and only by Allah's greatness
we can breath, go to work, taking care of our children
and only by Allah's generousity
we still life our live today

without Allah
we are nothing...

our children may be our responsibility,
but they're actually not ours...

source: Dina's Notes
Thx DJ for reminding me about this.

Thursday, April 2, 2009

Pasangan hidup

Manusia sering egois dengan memaksakan orang lain harus seperti apa dengan kriteria yang ideal, termasuk dengan pasangan hidupnya, orang tuanya, temannya, atau semua manusia yang dekat dengannya, tetapi dia tidak pernah memaksakan diri menjadi pribadi ideal...sehingga adalah hal yang adil Allah memberikan teman dan pasangan hidup yang sesuai dengan dirinya...untuk lebih jelasnya perhatikan tulisan yang penuh Hikmah dari sahabat kita Kamila Vyndarti:

PASANGAN HIDUP

Bertahun-tahun yang lalu,
seorang Anak Berdoa kepada Tuhan untuk Memberikan Pasangan Hidup,

"Engkau Tidak Memiliki Pasangan karena engkau Tidak Memintanya",
Tuhan menjawab.

"Tidak Hanya aku Meminta Kepada Tuhan,
aku Menjelaskan KRITERIA PASANGAN yang KUINGINKAN,
aku Menginginkan Pasangan yang BAIK HATI, LEMBUT,
MUDAH MENGAMPUNI, HANGAT, JUJUR, PENUH dengan DAMAI
dan SUKACITA, MURAH HATI, PENUH PENGERTIAN, PINTAR, HUMORIS,
PENUH PERHATIAN."

Aku bahkan Memberikan Kriteria Pasangan Tersebut Secara FISIK
yang Selama ini Kuimpikan.

Sejalan dengan berlalunya Waktu,
aku menambahkan DAFTAR Kriteria yang Kuinginkan dalam Pasanganku.

Suatu malam, dalam doa,
Tuhan berkata dalam HATIKU,
"Hamba-Ku, Aku Tidak Dapat Memberikan Apa yang engkau Inginkan."

Aku bertanya,
"Mengapa Tuhan?"

dan

Ia menjawab,
"Karena Aku adalah TUHAN dan Aku adalah ADIL.
Aku adalah KEBENARAN dan Segala yang Aku lakukan adalah BENAR."

Aku bertanya lagi,
"Tuhan, Aku Tidak Mengerti Mengapa aku Tidak Dapat
Memperoleh Apa yang aku Pinta dari-Mu?"

Jawab Tuhan,
"Aku Akan MENJELASKANNYA kepada-Mu,
adalah SUATU KE-TIDAK ADIL-AN dan KE-TIDAK BENAR-AN BAGI-KU
Untuk MEMENUHI KEINGINANMU karena Aku Tidak Dapat
Memberikan Sesuatu yang BUKAN Seperti engkau.
TIDAKLAH ADIL Bagi-Ku untuk MEMBERIKAN SESEORANG
yang Penuh dengan Cinta dan Kasih Kepadamu JIKA
TERKADANG engkau MASIH KASAR
atau Memberikan Seseorang yang Pemurah tetapi
engkau MASIH KEJAM
atau Seseorang yang Mudah Mengampuni tetapi
engkau sendiri MASIH SUKA MENYIMPAN DENDAM,
Seseorang yang Sensitif, namun engkau SENDIRI TIDAK..."

Kemudian Ia berkata kepadaku,
"Adalah LEBIH BAIK Jika Aku Memberikan Kepadamu
Seseorang yang Aku Tahu Dapat Menumbuhkan Segala KUALITAS
yang engkau CARI Selama Ini Daripada Membuat engkau
Membuang Waktu Mencari Seseorang yang Sudah
Mempunyai Ssemuanya itu.
PASANGANMU AKAN BERASAL DARI TULANGMU dan DAGINGMU
dan engkau AKAN MELIHAT DIRIMU SENDIRI DI DALAM DIRINYA
dan KALIAN BERDUA AKAN MENJADI SATU."

PERNIKAHAN adalah
seperti SEKOLAH - Suatu Pendidikan Jangka Panjang.

PERNIKAHAN adalah
TEMPAT DIMANA engkau dan PASANGANMU Akan
Saling MENYESUAIKAN DIRI dan TIDAK HANYA BERTUJUAN untuk
MENYENANGKAN HATI SATU SAMA LAIN
tetapi Untuk MENJADIKAN Kalian Manusia yang Lebih Baik
dan Membuat Suatu KERJASAMA yang SOLID.

"AKU TIDAK MEMBERIKAN PASANGAN yang SEMPURNA Karena
engkau TIDAK SEMPURNA.
AKU MEMBERIKAN SESEORANG yang DAPAT TUMBUH BERSAMAMU."

Ditulis oleh Nanang Agus Kristanto
To members of RENUNGAN HARIAN @ Facebook

*mohon ijin mengutip yah, Mas... thx*


Friday, March 6, 2009

Kasih Tanpa Syarat

Belum pernah aku segusar ini
Saat semua cita ku terlihat patah dan hancur
Saat raga ini tak lagi bisa menggenggam asa nya
Saat aku terpuruk lemah tak berdaya dikuasai takdir Mu

Allahu Akbar...
Penguasa segala semesta dan seisinya
Betapa kali ini Kau buktikan kejelataan ku
Seperti selembar kertas basah yang jatuh ke tanah lalu terinjak
sulit untuk bisa berharap tak akan koyak

Allahu ya... Rabbi
Ampuni hamba Mu yang sombong ini
yang kerap mengerjakan sesuatu tanpa mengucap bismillahirrahmannirrahiiim
yang kerap menerima rejeki tanpa berkata Alhamdulillah walau sekecil apapun rejeki itu
yang selalu memohon tanpa henti, seolah tak akan pernah merasa cukup

Allahu ya... Rahiim
mulai hari ini, akan ku ingat selalu
betapa takdir Mu pasti yang terbaik
bahwa Rejeki Mu meski sedikit tak mungkin keliru
Dan sayang Mu pada ku tak pernah bersyarat...

Dikutip dari note of Dina Cholidy (Mama's friend)

Monday, March 2, 2009

Air mata Mutiara

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. "Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu." Si ibu terdiam, sejenak, "Aku tahu bahwa itu sakit anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit terkadang masih terasa. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

**********

Sumber : Grup Renungan Harian

Tuesday, February 10, 2009

10 Nasehat Ali bin Abi Thalib

1. Dosa terbesar adalah “Ketakutan”.
2. Rekreasi terbaik adalah “Bekerja”.
3. Musibah terbesar adalah “Keputusasaan”.
4. Keberanian terbesar adalah “Kesabaran”.
5. Guru terbaik adalah “Pengalaman”.
6. Misteri terbesar adalah “Kematian”.
7. Kehormatan terbesar adalah “Kesetiaan”.
8. Karunia terbesar adalah “Anak yang sholeh”.
9. Sumbangan terbesar adalah “Partisipasi”.
10. Modal terbesar adalah “Kemandirian”

Thursday, February 5, 2009

PEREMPUAN YG DICINTAI SUAMIKU

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,

” Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, ” lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, ” Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?”

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,

Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.

Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.

Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.

Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.

yours,

Mario

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.

Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.

Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.

Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.

**********

Setahun kemudian…

Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

” Mario, suamiku….

Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..

Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.

Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, ” kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?”

Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.

Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.

Istrimu,

Rima”

Di surat yang lain,

“………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……”

Disurat yang kesekian,

“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.

Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….

Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya……..”

Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.

Disurat terakhir, pagi ini…

“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.

Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.

Tahukah engkau suamiku,

Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,

” Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……” Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.

Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.

Dear Meisha,

Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?

Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.

Jakarta, 7 Januari 2009 (dedicated to my friend....may you rest in peace...)

[dikutip dari milisnya mama]